Kompos bagase adalah kompos yang dibuat
dari ampas tebu (bagase), yaitu limbah padat sisa penggilingan
batang tebu. Kompos ini terutama ditujukan untuk perkebunan
tebu. Pabrik gula rata-rata menghasilkan bagase sekitar 32% bobot tebu yang
digiling. Sebagian besar bagase dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler,
namun selalu ada sisa bagase yang tidak termanfaatkan yang disebabkan oleh stok
bagase yang melebihi kebutuhan pembakaran oleh boiler pabrik.
Sisa bagase ini di masa depan diperkirakan akan bertambah seiring meningkatnya
kemajuan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi pabrik pengolahan tebu,
termasuk boiler pabrik.
Limbah bagase memiliki kadar bahan organik sekitar 90%, kandungan N 0.3%, P2O5 0.02%, K2O 0.14%, Ca 0.06%,
dan Mg 0.04% (Toharisman, 1991).
Pemberian kompos campuran bagase,
blotong, dan abu boiler pabrik pengolahan tebu dapat
meningkatkan ketersediaan hara N, P, dan K dalam tanah, kadar bahan organik, pH
tanah, serta kapasitas menahan air (Ismail, 1987). Hasil penelitian Riyanto
(1995) menunjukkan bahwa pemberian kompos bagase 4-6 ton/ha dapat mengurangi
penggunaan pupuk NPK hingga 50%.
Bahan pembuatan kompos bagase yaitu bagase dan kotoran sapi
yang dimanfaatkan sebagai bioaktivator, dengan perbandingan volume 3:1.
Penambahan kotoran sapi selain sebagai bioaktivator juga untuk menurunkan rasio
C/N. Bagase dan kotoran sapi ditumpuk berselingan dengan tebal bagase 30 cm dan
tebal kotoran sapi 10 cm, lalu di tumpukan teratas diberikan jerami sebagai
penutup. Pengomposan dilakukan dengan sistem windrow menggunakan
saluran udara yang terbuat dari bambu yang dipasang secara vertikal
dan horizontal. Selama proses pengomposan, dilakukan penyiraman secara rutin
diikuti dengan pemeriksaan suhu dan kelembaban. Tumpukan bagase dibalik setiap
minggu atau ketika kelembaban melebihi 70%. Proses pengomposan membutuhkan
waktu 3 bulan hingga kompos menunjukkan warna coklat tua hingga hitam.
|
Hasil
analisis kompos bagase dengan starter kotoran sapi
|
|
|
Sifat kompos
|
Kandungan
|
|
Kadar
air (%)
|
64.23
|
|
pH
|
4.95
|
|
C
(%)
|
20.47
|
|
N
(%)
|
1.12
|
|
Rasio
C/N
|
18.00
|
|
P2O5
(%)
|
0.08
|
|
K2O
(ppm)
|
75.29
|
|
SO4
(%)
|
0.02
|
|
Ca
(%)
|
0.08
|
|
Mg
(ppm)
|
91.69
|
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen Agronomi dan
Hortikultura Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa kompos bagase
(kompos yang dibuat dari ampas tebu) yang diaplikasikan pada tanaman tebu (Saccharum
officinarum L) meningkatkan penyerapan nitrogen secara signifikan
setelah tiga bulan pengaplikasian dibandingkan dengan yang tanpa kompos, namun
tidak ada peningkatan yang berarti terhadap
penyerapan fosfor, kalium, dan sulfur. Penggunaan kompos bagase
dengan pupuk anorganik secara bersamaan tidak meningkatkan laju pertumbuhan,
tinggi, dan diameter dari batang, namun diperkirakan dapat meningkatkan
rendemen gula dalam tebu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar