Buah yang satu ini seolah naik
tahta. Setelah dulu sempat dituding sebagai pemicu serangan usus buntu, kini
jambu biji banyak diminati. Kandungan vitamin C-nya yang tinggi membuat buah
yang satu ini banyak dikonsumsi hobiis dalam bentuk jus. Ragam jenisnya pun
kian banyak, mulai dari jambu biji berdaging merah (misalnya sukun merah, getas
merah) hingga jambu biji yang nyaris tanpa biji (misalnya jambu Kristal).
Alasan lain buah ini diminati adalah karena mau berbuah sepanjang tahun dan cara budidaya-nya yang relatif mudah.
Teknik mudah budi daya
Agar produksinya optimal, jambu
biji sebaiknya ditanam di tempat yang terbuka pada ketinggian 0-1.200 m dpl.
Suhu optimal adalah 20º C pada malam hari dan 30º C pada siang hari. Intensitas
curah hujan berkisar 1.000-2.000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun.
Kelembaban udara yang diinginkan cenderung rendah karena kebanyakan jambu biji
tumbuh di dataran rendah dan sedang. Tanaman jambu biji sebenarnya dapat tumbuh
pada semua jenis tanah. Namun, untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman
ini akan lebih baik jika ditanam di tanah dengan pH antara 6-6,5.
a) Memilih bibit
Bibit jambu
biji. Pilih yang kondisinya prima
Bibit jambu biji yang baik
berasal dari hasil okulasi (penempelan) yang telah berumur minimal 4 bulan.
Sebiaknya, panjang satu cabang tunas telah mencapai 30 cm dan memiliki 6 pasang
daun. Yang paling penting, bibit terbebas dari hama dan penyakit utama.
b) Cara mudah
menanam tabulampot
Maraknya tabulampot membuat
jambu biji juga kerap ditanam di pekarangan dalam wadah pot. Untuk menghasilkan
tabulampot jambu biji sarat buah, tahap penanaman sebaiknya dilakukan dengan
benar, sebagai berikut.
1.
Pilih pot yang berukuran besar
(diameter sekitar 1 m) yang terbuat dari plastik, semen atau drum bekas karena
tinggi maksimal tanaman jambu biji bisa mencapai 10 m.
2.
Masukkan media tanam yang porous
dan gembur ke dalam pot, bisa berupa campuran tanah merah dan pupuk kandang
ayam (50%:50%).
3.
Pindahkan bibit dengan
mencungkil atau membuka plastik yang melekat pada media penanaman secara
hati-hati agar akar tidak rusak ke dalam pot yang sudah berisi media tanam.
Agar akar tumbuh lebih banyak, potong akar tunggangnya sedikit. Untuk menjaga
terjadinya penguapan yang berlebihan, potong lebar daun separuh.
4.
Padatkan media tanam di sekitar
bibit, lalu siram tanaman hingga air mulai merembes dari dasar pot.
c)
Pelihara agar sarat buah
Untuk mendapatkan tabulampot
jambu biji sarat buah, tanaman perlu dipelihara dengan baik. Penyiraman perlu
dilakukan secara rutin, terutama saat musim kemarau. Pemangkasan yang tepat
juga akan memicu tanaman untuk rajin berbuah. Pemangkasan dilakukan pada cabang
yang berada dekat dengan batang utama yang akan berbuah. Hal ini penting untuk
mengoptimalkan pembuahan. Selain itu, kunci penting lain untuk memacu produksi
buah kian banyak adalah dengan pemupukan. Cara pemupukan pada jambu biji
sebagai berikut.
1.
Pada umur 0-1 tahun. Tanaman
dipupuk dengan campuran 15 kg pupuk kandang per 6 bulan, 2 cc/Liter per bulan
PPC, dan 100-150 g NPK per 4 bulan, dengan cara ditaburkan di sekeliling pohon
atau dengan jalan menggali di sekeliling pohon sedalam 30 cm dan lebar 40-50
cm.
2.
Pada umur 1-2 tahun, setelah
tanaman berbuah. Pemupukan dilakukan dengan 200-300 g NPK per 4 bulan dan 2
cc/liter PPC per 2 minggu dan 20 kg pupuk kandang per 6 bulan.
3.
Pada umur 2-5 tahun, tanaman
jambu biji diberi 20 kg pupuk kandang per 6 bulan, 22 cc/liter per 2 minggu
untuk PPC, serta NPK 350-500 g per 6 bulan.
4.
Pada umur > 5 tahun.
Jika pertumbuhan kurang sempurna, terutama terlihat pada pertumbuhan tunas
hasil pemangkasan ranting, tanaman memerlukan pupuk kandang sebanyak 25 kg per
6 bulan per tanaman. Selain itu, tanaman juga perlu dipupuk dengan PPC sebanyak
2 cc/ Liter per 2 minggu dan NPK 500 g per 6 bulan.
Kendalikan hama dan penyakit agar tanaman tetap
produktif
Berikut beberapa jenis hama dan
penyakit yang kerap menyambangi jambu biji.
Hama
a. Ulat daun (trabala pallida) dan Ulat
keket (Ploneta diducta)
Pengendalian:
penyemprotan dengan menggunakan nogos. Buah baru boleh dipetik minimal 2 minggu
setelah penyemprotan, untuk mengurangi efek samping insektisida tersebut.
b. Semut dan Kutu daun (Ceroputo)
Gejala : Jika
serangan kutu daun berlangsung lama akan menimbulkan jamu hitam diatas embun
tersebut atau biasa disevut embun jelaga pada permukaan daun.
Pengendalian:
dengan penyemprotan insektisida, seperti sevin dan furadan.
c. Kalong
dan Bajing
Keberadaan serangga ini
dipengaruhi faktor lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. Yang
termasuk faktor biotik seperti persediaan makanan.
Pengendalian:
dengan menggunakan musuh secara alami.
d. Ulat putih
Gejala: buah
menjadi berwarna putih hitam,
Pengendalian:
penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak 2 kali seminggu.
Penyemprotan dihentikan saat satu bulan sebelum panen.
e. Ulat penggerek batang (Indrabela sp)
Gejala: membuat
lobang pada batang kayu sepanjang 30 cm;
Pengendalian:
penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak 2 kali seminggu.
f. Ulat jengkal (Berta chrysolineate)
Gejala: pinggiran
daun menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning.
Pengendalian:
penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak 2 kali seminggu.
Penyakit
a. Penyakit karena ganggang (Cihephaleusos
Vieccons)
Gejala: adanya
bercak-bercak kecil dibagian atas daun disertai serat-serat halus berwarna
jingga yang merupakan kumpulan sporanya.
Pengendalian:
penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
b. Jamur Ceroospora psidil ,
Jamur karat poccinia psidil, Jamur allola psidil
Gejala: bercak
pada daun berwarna hitam.
Pengendalian:
penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
c. Penyakit karena cendawan (jamur) Rigidoporus
Lignosus
Gejala: rizom
berwarna putih yang menempel pada akar, apabila akar yang terserang dikupas
akan nampak warna kecoklatan.
Pengendalian:
penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
d. Penyakit karena lalat buah
Gejala : Daging
buah busuk
Pengendalian :
- Menggunakan perangkap
petrogenol
- Pembungkusan buah
e. Penyakit antraknosa
Gejala : Menyerang
tunas muda, daun dan buah, buah menjadi keras dan bergabus. Tepi daun dan ujung
daun hitam. Pada tingkat serangan berat dapat menyebabkan gugurnya daun. Pada
umumnya menyerang buah yang mulai matang dengan gejala timbul bercak-berak.
Pengendalian :
- Sanitasi lingkungan tempat
tumbuh & sanitasi tanaman
- Mengurangi kelembaban dengan
cara pemangkasan
- Penyemprotan fungisida
f. Penyakit kanker / kudis
Gejala : Bercak
kecil, kemudian berkembang dan membesar berwarna cokelat tua dan tampak seperti
kanker
Pengendalian :
Brongsong buah dan buang bagian tanaman yang sakit lalu bakar
g. Penyakit bercak daun
Gejala : Daun
yang terserang tampak bercak-bercak bulat atau kurang teratur bentuknya,
berwarna merah dan bagian tengah bercak terkadang putih.
Pengendalian :
memotong da memusnahkan bagian yang sakit, dapat disemprot dengan fungisida
sesuai dosis anjuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar