Pengolahan lahan
Untuk pengolahan lahan lahan pasang surut bergambut < 30 cm dapat dilakukan dengan traktor rotary
(gelebeg), sedangkan untuk lahan sulfat masam potensial dengan
kedalaman pirit < 30 cm dilakukan tanpa olah tanah (TOT) menghindari
oksidasi pirit.
Pemberian Bahan Organik
Bahan
organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan, kimia dan biologi
tanah. Bahan organik dapat berupa pupuk kandang, sisa tanaman, pupuk
hijau dan kompos sebanyak 5 ton/ha. Jerami dikembalikan ke lahan dengan
cara dibenamkan atau dalam bentuk kompos atau dijadikan pakan ternak
yang kotorannya diolah menjadi pupuk kandang.
Benih
Benih
yang dianjurkan pada MT Gadu adalah: (1) Varietas Inpara-1 untuk
mengatasi kekeringan dan kemungkinan intrusi air asin atau (2) Varietas
Inpara-2 untuk mengurangi serangan burung pipit karena memiliki daun
bendera tegak. Hasil Inpara-1 diarahkan untuk konsumsi petani karena
tekstur nasinya keras dan warnanya kusam tetapi memiliki produktivitas
tinggi. Sedangkan hasil Inpara-2 dapat diarahkan untuk dijual terutama
ke pasar di Pontianak karena tekstur nasinya pulen. Pada MT Rendengan
dianjurkan untuk menanam Inpara-3 atau Inpara-5 untuk mengatasi rendaman
air hujan dan air pasang. Hasil Inpara-3 diarahkan untuk pasar lokal
karena berasnya ramping panjang putih jernih tekstur nasinya keras.
Sedangkan hasil Inpara-5 dapat diarahkan untuk dijual terutama ke pasar
di Pontianak karena tekstur nasinya pulen seperti IR-64.
Penanaman
Penggunaan
dianjurkan menggunakan bibit muda yang dipindahkan pada umur < 21
hari setelah tanam (HSS) agar tidak stres akibat pencabutan bibit dan
pengangkutan dibandingkan bibit tua. Di daerah yang ada serangan keong
mas, gunakan bibit yang berumur tua. Jumlah bibit 1-3 tanaman/lubang.
Penanaman bibit lebih dari 3 batang / rumpun akan meningkatkan
persaingan antar bibit dalam rumpun. Penanaman dianjurkan dengan cara
Jajar Legowo untuk meningkatkan populasi tanaman dan mengurangi hama
keong mas, tikus serta keracunan besi. Jajar Legowo adalah pengosongan
satu baris tanaman setiap dua baris (Legowo 2:1) atau empat baris
(Legowo 4:1) dan tanaman dalam barisan dirapatkan. Jarak tanamnya 20 x
10 x 40 cm atau 25 x 12,5 x 50 cm.
Pemupukan
Kebutuhan
pupuk ditentukan berdasarkan hasil analisa tanah dengan Perangkat Uji
Tanah Sawah (PUTS). Untuk Desa Wajok Hilir, Wajok Hulu, Jungkat, Sungai
Nipah, Sungai Burung, Peniraman, Nusapati, dan Bakau Besar Laut di
Kabupaten Pontianak direkomendasikan dosis pupuk urea 200 kg/ha, SP-36
100 kg/ha, KCl 50 kg dan kompos jerami 5 ton/ha. Untuk memperoleh hasil
optimal kebutuhan pupuk N tanaman diketahui dengan mengukur tingkat
kehijauan daun menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) yang digunakan pada
pemupukan ke 2 umur 25 – 28 HST dan pemupukan ke 3 umur 38 – 42 HST.
Jika skor pada BWD nilainya 2-3 maka perlu dipupuk 75 kg urea/ha, jika
nilainya antara 3 – 4 maka perlu dipupuk 50 kg/ha.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
Lakukanlah
pengamatan OPT sejak dari persemaian sampai di pertanaman. Pengendalian
dilakukan setelah serangan mencapai ambang ekonomi. Taktik dan teknik
pengendalian : 1) Usahakan tanaman selalu sehat , 2) Gunakan varietas
tahan, 3) Terapkan pengendalian hayati, biopestisida, atau pestisida
kimia sesuai anjuran. Hama Utama : tikus sawah, wereng coklat,
penggerek batang padi, dan keong mas. Pada MT Rendengan 2010 juga
ditemukan serangan hama kepik hitam di daerah Anjungan, Kecurit, dan
sekitarnya sehingga perlu diwaspadai karena menyebabkan rasa nasi
menjadi pahit. Penyakit utama : tungro dan hawar daun bakteri.
Pengendalian tikus dianjurkan dengan sistim Trap Barrier System (TBS).
Penyiangan
Lakukan
penyiangan gulma pertama kali kurang dari 21 hari setelah tanam (HST)
dan setelah itu dilihat dari banyaknya gulma. Penyiangan dapat dilakukan
secara mekanis misalnya menggunakan mesin penyiang (power weeder) bila kondisi memungkinkan atau secara manual dengan tangan. Bila kurang tenaga kerja dapat digunakan herbisida sesuai anjuran.
Panen.
Tanaman
dipanen jika sebagian besar gabah (90 – 95%) telah bernas dan berwarna
kuning. Panen dianjurkan menggunakan arit bergerigi untuk menggantikan
ani-ani agar lebih cepat. Jika tenaga kerja terbatas maka panen juga
dapat dilakukan menggunakan mesin panen (mower). Jika menanam varietas Inpara-3 sebaiknya jangan dipanen dengan mower karena gabahnya mudah rontok. Setelah dipanen segera secepatnya dilakukan perontokan menggunakan gebod, pampung, atau power thresher untuk menghindari gabah menjadi hitam.
|
Senin, 03 November 2014
Teknologi Budidaya Padi Pada Lahan Pasang Surut
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar