Selasa, 04 November 2014

Cara Budidaya Pisang

1.      SEJARAH SINGKAT
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang.
 2.      JENIS TANAMAN

Klasifikasi botani tanaman pisang adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa spp.
Jenis pisang dibagi menjadi tiga:

1) Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis. Misalnya pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas.

2) Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis. Misalnya pisang nangka, tanduk dan kepok.

3) Pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya. Misalnya pisang batu dan klutuk.

4) Pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).


3. MANFAAT TANAMAN

Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia.

Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia.

Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat
sakit kencing dan penawar racun.

4. SENTRA PENANAMAN

Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Tidak diketahui dengan pasti berapa luas perkebunan pisang di Indonesia. Walaupun demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997 adalah ke Cina.

5. SYARAT TUMBUH

5.1. Iklim
1) Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan.

2) Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

3) Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang.

5.2. Media Tanam
1) Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan.

2) Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50 - 200 cm, di daerah setengah basah 100 - 200 cm dan di daerah kering 50 - 150 cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%.

5.3. Ketinggian Tempat

Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl

6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan

Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).

1) Persyaratan Bibit
Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi 15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan dari pada bibit dengan daun yang lebar.

2) Penyiapan Bibit
Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri. Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.

3) Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam
Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi perlakuan sebagai berikut:
a) Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.
b) Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi mengering. Buang daun-daun yang lebar.
c) Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0,5–1% selama 10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.
d) Jika tidak ada insektisida, rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam.
e) Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air panas beberapa menit.

6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Pembukaan Lahan
Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan
sosial.

Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.

2) Pembentukan Sengkedan
Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengke dan tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi, pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.

3) Pembuatan Saluran Pembuangan Air

Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi dari landasan saluran itu sendiri.

6.3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanaman

Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar sehingga pada tiga bulan pertama memungkinkan dipakai pola tanam tumpang sari/tanaman lorong di antara tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dapat berupa sayur-sayuran atau tanaman pangan semusim.

Di kebanyakan perkebunan pisang di wilayah Asia yang curah hujannya tinggi, pisang ditanam bersama-sama dengan tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa dan arecanuts. Di India Barat, pisang untuk ekspor ditanam secara permanen dengan kelapa.

2) Pembuatan Lubang Tanam

Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau 40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.

3) Cara Penanaman

Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15–20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.

6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan
Untuk mendapatkan hasil yang baik, satu rumpun harus terdiri atas 3-4 batang. Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan). Setelah 5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru.

2) Penyiangan
Rumput/gulma di sekitar pohon induk harus disiangi agar pertumbuhan anak dan juga induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran dan tunas bertambah banyak. Perlu diperhatikan bahwa perakaran pisang hanya rata-rata 15 cm di bawah permukaan tanah, sehingga penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.

3) Perempalan
Daun-daun yang mulai mengering dipangkas agar kebersihan tanaman dan sanitasi lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini dilakukan setiap waktu.

4) Pemupukan
Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. Untuk satu hektar, pisang memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl dan 200 kg batu kapur sebagai sumber kalsium.

Pupuk N diberikan dua kali dalam satu tahun yang diletakkan di dalam larikan yang mengitari rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali dengan tanah. Pemupukan fosfat dan kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua kali dalam setahun).

5) Pengairan dan Penyiraman
Pisang akan tumbuh subur dan berproduksi dengan baik selama pengairannya terjaga. Tanaman diairi dengan cara disiram atau mengisi parit-parit/saluran air yang berada di antara barisan tanaman pisang.

6) Pemberian Mulsa
Tanah di sekitar rumpun pisang diberi mulsa berupa daun kering ataupun basah. Mulsa berguna untuk mengurangi penguapan air tanah dan menekan gulma, tetapi pemulsaan yang terus menerus menyebabkan perakaran menjadi dangkal sehingga pada waktu kemarau tanaman merana. Karena itu mulsa tidak boleh dipasang terus menerus.

7) Pemeliharaan Buah

Jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir harus dipotong agar pertumbuhan buah tidak terhambat. Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus dengan kantung plastik bening. Kantung plastik polietilen dengan ketebalan 0,5 mm diberi lubang dengan diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa sehingga menutupi 15-45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah ujung buah dari sisir terbawah. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah akibat beratnya tandan, batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.


7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Ulat daun (Erienota thrax.)
Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun. Pengendalian: dengan menggunakan insektisida yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.

2) Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)
Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang. Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian: sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit yang telah disucihamakan.

3) Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis).
Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian: gunakan bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.

4) Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)
Bagian yang diserang adalah bunga dan buah. Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang. Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.

7.2. Penyakit
1) Penyakit darah
Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman bagian dalam. Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah. Pengendalian: dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

2) Panama
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam. Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

3) Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas. Pengendalian: dengan menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux (BB).

4) Layu
Penyebab: bakteri Bacillus . Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman layu dan mati. Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

5) Daun pucuk
Penyebab: virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Bagian yang diserang adalah daun pucuk. Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok. Pengendalian: cara membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

7.3. Gulma
Tidak lama setelah tanam dan setelah kanopi dewasa terbentuk, gulma akan menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan:

1) Penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon.
2) Menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan, tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. Misalnya Geophila repens.
3) Menutup tanah dengan plastik polietilen.

8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.

8.2. Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.

Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan tanah.

Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali. Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.

8.3. Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.

8.4. Perkiraan Produksi
Belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.

9. PASCAPANEN
Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.

Hati-hati Menanam Sengon, Jati, Mahoni, dan Akasia

Ada banyak promosi penjualan bibit tanaman sengon, jati, mahoni, akasia dan tanaman jenis kayu hutan lainnya di internet. Paparan tentang keuntungan yang bakal diperoleh juga ikut dijelaskan, hingga menggiurkan banyak pihak, terutama petani pemula.

Namun ada satu hal yang harus diwaspadai. Produk kayu yang dihasilkan, setelah sepuluh sampai lima belas tahun tanam itu, bisa terkena aturan peredaran hasil hutan.

Saya tak mau merinci masalah birokrasi ini, karena tak punya latar belakang pengetahuan hukum yang cukup.

Yang terjadi di daerah penulis, satu kebun kayu jati terpaksa dipotong-potong pendek lalu dijadikan kayu asap, atau kayu untuk membakar batu bata, karena terbentur masalah birokrasi. Kayu asap sendiri harganya jauh lebih murah dibanding kayu bahan bangunan.

Karena itu, bagi peminat budidaya tanaman kayu jenis kayu hutan ini, carilah informasi yang cukup terlebih dahulu, sebelum memutuskan menanamnya. Jangan sampai terjadi, sudah menunggu sekian lama, ternyata kayu sulit dijual karena terbentur aturan yang berlaku.

Carilah informasi dari pelaku pasar, jangan dari internet, karena biasanya, lain aturan lain pula pelaksanaan.

Cara melakukan penyemaian biji Mahoni

Bila kita ingin mencoba untuk mnyemai benih Mahoni  sendiri kita harus banyak belajar tentang tata cara penyemaian tersebut.

PENGKECAMBAHAN BENIH
  1. Pertama tama kita harus persiapkan bedengan dengan ukuran 1 x 10 meter(20 kg biji jati). Media bedengan mengguhakan pasir halus dengan ketebalan ± 3 cm
  2. Kita pilih biji Mahoni yang benar2 tua dan besar,
  3. Rendam biji tersebut selama 3 jam dengan air yang di campur Zat perangsang tumbuh(Progrip dll)
  4. Angkat dan tiriskan beberapa saat . 5. Sebelum melakukan penyebaran, sebaiknya semprotkan pestisida dan fungisida pada bedengan tabur.
  5.  Sebarkan benih tersebut pada bedengan yang telah di sediakan, taburkan pasir setebal 1 cm diatasnya..tutup rapar pakai plastic putih yang dibikin seperti tenda dan berilah peneduh paranet 2 lapis di atasnya, usahakan jangan dibuka selama 2 hari pertama
  6. Penyiraman dilakukan setiaphari setelah hari ke 3 (BEDENGAN HARUS TETAP BASAH)
  7. Benih Mahoni  akan tumbuh sekitar 3 minggu
  8. Penyemprotan insektisida dilakukan tiap 7 hari sekali

PEMINDAHAN-PENYAPIHAN KE PERSEMAIAN
  1. Setelah benih Mahoni memiliki daun 4, benih Mahoni siap untuk di sapih,
  2. Siapkan media polybag dengan ukuran 10 x 15, isi dengan media tahah(sebaiknya di campur dengan TSP/SP-36)
  3. Tata berjejer 7 x 100 polybag,(kanan kiri polybag sedikit diaruk tanah(supaya polubag tetap pada posisinya)
  4. Siapkan naungan diaasnya dengan paranet 70%,
  5. Sebelum melakukan pemindahan media harus di siram secukupnya.
  6. Pindahkan benih Mahoni  pada sore hari(mulai jam 3). Siram kembali  secukupnya.
  7. Siram, semprot serta pupuk secara teratur
  8. Bibit Mahoni  siap di tanam setelah umur 4 bulan(±40 cm)

PENYIRAMAN DAN PEMUPUKAN
  1. Penyiraman dilakukan setiap hari,( sebaiknya pada sore hari)
  2. Penyemprotan dilakukan setiap 1 minggu sekali dengan menggunakan pestisida dicampur pupuk daun(gandasil D)
  3. Pemupukan dilakukan setelah bibit jati berumur 15  hari,
  • Larutkan 1 kg pupuk Npk Mutiara dengan air 10 liter,
  • Campur 1 liter air larutan tersebut dengan air biasa 15 liter, lalu siramkan untuk 500 batang bibit
  • Setelah meresap, bilas rata dengan air biasa secukupnya
  • Pemupukan harus dilakukan pada sore hari( mulai jam 4)

PEMBIBITAN MAHONI

Sumber Gambar: Ir. Hery Pasulu, MP
Mahoni (Swietenia spp), berasal dari Amerika tengah dan Selatan.  Pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1872, dan mulai dikembangkan dalam skala luas di Jawa pada tahun 1897. 
 
Pohon ini termasuk keluarga Meliaceae dan di Indonesia terdapat dua jenis yaitu Swietenia macrophyllia King (Mahoni daun besar) dan Swietenia mahagoni Jaq (Mahoni daun kecil). Mahoni daun lebar memiliki pertumbuhan relatif lebih cepat dibandingkan mahoni daun kecil.
 
1.      Pengadaan biji
untuk memperoleh produktivitas kayu dan mutu tegakan yang tinggi perlu diupayakan pemakaian bibit yang baik. Bibit yang baik diperoleh dari pohon yang benihnya telah berumur lebih dari 20 tahun. Pengambilan biji dilakukan apabila buah sudah masak yang berwarna coklat tua.
 
2. Penaburan Biji
a.     Media tabur,  yang digunakan adalah tanah dicampur pasir dengan perbandingan 2 : 1, kemudian
disaring dengan  kawat saringan. Penaburan benih dilakukan secara merata ke seluruh permukaan media.
b.   Cara lain penaburan biji, dapat dilakukan ke dalam bak besar atau kantong plastik yang sudah diberi lobang-lobang kecil. Pada cara ini tidak diperlukan penyapihan bibit, tetapi diperlukan penyulaman pada kantong plastik yang bijinya tidak tumbuh.  Perlakuannya hampir sama seperti bibit yang disapih. Untuk menjaga kelembaban pada bedeng tabur, dilakukan penyiraman secara hati-hati.
 
3. Penyapihan
Benih yang mulai berkecambah atau  sudah mempunyai 2 – 4 helai daun dapat dipindahkan ke dalam kantong plastik (polybag) yang telah diisi media. Komposisi yang umum dipakai adalah campuran pasir, tanah dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1.
 
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara lain :
a.      Pencabutan semai dari bedeng tabur harus hati-hati dan akar tidak boleh patah/rusak.
b.    Semai ditanam dalam kantong plastik berdiri tegak dan akar semai jangan melipat.
c.      Semai terhindar dari luka
d.     Penyapihan dilakukan pada pagi hari atau sore hari dan dilakukan dibawah naungan.
 
Bibit siap ditanam di lapangan setelah  berumur ± 6 bulan dengan tinggi ± 25 cm (dari pangkal batang sampai ujung  daun), bagian batang bibit berkayu, diameter bibit > 2 mm, sehat dan segar.

BUDIDAYA TANAMAN KOPI

Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi di pasaran dunia, di samping itu tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Jawa Barat.

Tanaman kopi jenis arabika sat ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kopi Robusta yang mana pada tahun 1990 harga kopi Arabika 1,85 U$D/Kg, sedangkan kopi Robusta 0,83 U$D/Kg. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan harga kopi Robusta di pasaran dunia antara lain :
1.         Kelangkaan pasok jenis kopi Arabika.
2.         Kopi robusta mengalami over supply.
3.         Penggunaan kopi Robusta semakin tinggi.
4.        Situasi pasaran dunia untuk jenis Robusta menurun sehingga ICO melakukan pemotongan kuota sebanyak 2 kali lipat dalam setahun.

Dari hal tersebut perlu adanya usaha pemilihan jenis kopi yang mempunyai nilai ekonomis dan rasa yang relatif baik serta yang tahan terhadap penyakit karat daun.  

Usaha untuk merebut peluang pasar kopi antara lain dengan Pengembangan tanaman kopi Arabika melalui kegiatan peremajaan, peluasan dan rehabilitasi tanaman kopi dari kopi Robusta menjadi kopi Arabika.

Pengertian

Peremajaan
Peremajaan adalah usaha menggantikan tanaman yang secara ekonomis tidak menguntungkan lagi karena produktivitasnya rendah sehingga perlu diganti dengan yang baru dan dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Perluasan
Kegiatan perluasan adalah menanam tanaman kopi di areal baru yang lingkungannya sesuai dengan persyaratan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi.

Rehabilitasi
Rehabilitasi kebun adalah kegiatan untuk memulihkan kondisi kebun ke keadaan yang lebih baik, sehingga produktivitasnya meningkat. Rehabilitasi tanaman ditujukan pada populasi tanaman yang telah berkurang karena kesalahan kultur teknis, serangan hama dan penyakit serta kekeringan yang akan akan mengakibatkan produktivitas tanaman per hektar rendah atau tidak menguntungkan untuk diusahakan.

Budidaya Tanaman Kopi Arabika
Pada dasarnya untuk usahatani dan budidaya kopi arabika melalui kegiatan Perluasan, Peremajaan dan Rehabilitasi adalah sama seperti pada kegiatan penanaman baru, yaitu :

Syarat Tumbuh
Lokasi
Letaknyas terisolir dari pertanaman kopi varietas lain ± 100 meter.
Lahan bebas hama dan penyakit
Mudah pengawasan

Tanah
PH tanah              : 5,5 – 6,5
Top Soil              : Minimal 2 %.
Strukrur tanah    : Subur, gembur ke dalaman relative > 100 cm.

Iklim
Tinggi tempat      : 800 – 2000 m dpl
Suhu                   : 15º C – 25º C.
Curah hujan         : 1.750 – 3000 mm/thn
                                           Bulan kering 3 bulan

Bahan Tanaman
Untuk perbanyakan tanaman di lapangan diperlukan Bibit Siap Salur dengan kriteria sebagai berikut :
Sumber benih                  : Harus berasal dari kebun induk atau                                                perusahaan yang telah ditunjuk.
Umur bibit                      : 8 -12 bulan
Tinggi                             : 20 -40 cm
Jumlah minimal daun tua   : 5 – 7
Jumlah cabang primer      : 1
Diameter batang              : 5 – 6 cm

Kebutuhan bibit/ha
Jarak tanam                    : 1,25 m x 1,25 m
Populasi                           : 6.400 tanaman
Untuk sulaman                      : 25 %

3.    Penanaman
a.      Jarak Tanam
Sistem jarak tanam untuk kopi arabika antara lain :
Segi empat        : 2,5 x 2,5 m
Pagar                : 1,5 x 1,5 m
Pagar ganda       : 1,5 x 1,5 x 3 cm
b.    Lobang Tanam
Harus dibuat 3 bulan sebelum tanam.
Ukuran lubang 50 x 50 x 50 cm, 60 x 60 x 60 cm, 75 x 75 x 75 cm atau 1 x 1 x 1 m untuk tanah yang berat.

Tanah galian diletakan di kiri dan kanan lubang.
Lubang dibiarkan terbuka selama 3 bulan.
2 -4 minggu sebelum tanam, tanah galian yang telah dicampur dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15/20  kg/lubang, dimasukkan kembali ke dalam lubang.
Tanah urugan jangan dipadatkan.

a.                   Penanaman
Penanaman dilakukan pada musim hujan
Leher akar bibit ditanam rata dengan permukaan tanah.

4.     Pemeliharaan
a.      Penyiangan
Membersihkan gulma di sekitar tanaman kopi.
Penyiangan dapat dilakukan bersama-sama dengan penggemburan tanah
Untuk tanaman dewasa dilakukan 2 x setahun

b.     Pohon Pelindung

Penanaman pohon pelindung
Tanaman kopi sangat memerlukan naungan untuk menjaga agar tanaman kopi jangan berbuah terlalu banyak sehingga kekuatan tanaman cepat habis.
Pohon pelindung ditanam 1 – 2 tahun sebelum penaman kopi, atau memanfaatkan tanaman pelindung yang ada.
Jenis tanaman untuk pohon pelindung antara lain lamtoro, dadap, sengon, dll.

Pengaturan pohon pelindung
Tinggi pencabangan pohon pelindung diusahakan 2 x tinggi pohon kopi
Pemangkasan pohon pelindung dilakukan pada musim hujan.
Apabila tanaman kopi dan pohon pelindung telah cukup besar, pohon pelindung bisa diperpanjang menjadi 1 : 2 atau 1 : 4.

c.      Pemangkasan Kopi
Pangkasan Bentuk
Tinggi pangkasan 1,5 – 1,8 m
Cabang primer teratas harus dipotong tinggi 1 ruas
Pemangkasan dilakukan di akhir musim hujan

Pangkasan Produksi
Pembuangan tunas wiwilan (tunas air) yang tumbuh ke atas.
Pembuangan cabang cacing dan cabang balik yang tidak menghasilkan buah.
Pembuanagn cabang-cabang yang terserang hama penyakit.
Pemangkasan dilakukan 3 – 4 kali setahun dan dikerjakan pada awal musim hujan.

Pangkasan Rejupinasi (pemudaan)
Ditujukan pada tanaman yang sudah tua dan produksinya sudah turun menurun
Pada awal musim hujan, batang dipotong miring setinggio 40 – 50 cm dari leher akar. Bekas potongan dioles dengan aspal.
Tanah disekeliling tanaman dicangkul dan dipupuk
Dari beberapa tunas yang tumbuh pelihara 1 -2 tunas yang pertumbuhannya baik dan lurus ke atas.
Setelah cukup besar, disambung dengan jenis yang baik dan produksinya tinggi.

5.     Pemupukan

a.      Dosis pemupukan kopi per pohon adalah :
Umur 1 tahun            : 50 gr Urea, 40 gr TSP, dan 40 gr KCL.
Umur 2 tahun            : 100 gr Urea, 80 gr TSP, dan 80  gr KCL.
Umur 3 tahun            : 150 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.
Umur 4 tahun            : 200 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.
Umur 5-10 tahun       : 300 gr Urea, 150 gr TSP, dan 240 gr KCL.
Umur 10 thn keatas   : 500 gr Urea, 200 gr TSP, dan 320 gr KCL.

b.     Pupuk diberikan dua kali setahun yaitu awal dan akhir musim hujan masing-masing setengah dosis.
c.      Cara pemupukan dengan membuat parit melingkar pohon sedalam ± 10 cm, dengan jarak proyek tajuk pohon (± 1 m)


6.    Pengendalian Hama Penyakit.

a.      Hama

Hama Bubuk Buah
Penyebab adalah sejenis kumbang kecil
Menyerang buah muda dan tua
Pengendalian dengan mekanis yaitu dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang, secara kultur teknis dengan penjarangan naungan dan tanaman sedangkan secara chemis dengan Insektisida Dimecron 50 SCW, Tamaron, Argothion, Lebaycide, Sevin 85 S dengan dosis 2 cc / liter air.

Bubuk Cabang (Xyloborus moliberus)
Menyerang/menggerek cabang dan ranting kecil 3 – 7 dari pucuk kopi.
Daun menjadi kuning dan rontok kemudian cabang akan mongering.
Pengendalian sama seperti pada hama bubuk buah.

b.     Penyakit

Penyakit Karat Daun
Penyebab adalah sejenis Cendawan.
Tanda serangan ada bercak-bercak merah kekuningan pada bagian bawah daun, sedangkan di permukaan daun ada bercak kuning. Kemudian daun gugur, ujung cabang muda kering dan buah kopi menjadi hitam kering dan kualitas tidak baik selanjutnya tanaman akan mati.
Pengendalian secara kultur teknis dengan menanam jenis kopi arabika yang tahan sepertio S 333, S 288 dan S 795 serta menjaga agar kondisi FungisidaDithane M-45 dengan dosis 2 gr/liter air.

c.      Panen
Kopi Arabika mulai berbuah pada umur 4 tahun.
Petik buah yang betul masak dengan warna merah, tua agar menghasilkan kopi yang berkualitas.
Pada waktu panen (pemetikan) agar berhati-hati supaya tidak ada bagian pohon/cabang/ranting) yang rusak.